Rabu, 10 Desember 2025

Surat Cinta Untuk Guruku

 


Setiap pagi Ibu masuk kelas dengan langkah yang sama: tenang, tapi tegas. Tidak ada musik latar, tidak ada sorotan panggung, tapi entah kenapa ruangan selalu berubah ketika Ibu mulai bicara. Kata-kata Ibu bukan sekadar pelajaran; mereka seperti pintu kecil yang dibuka agar kami bisa melihat dunia yang lebih luas daripada meja kayu di depan kami. 

Waktu itu saya mengira guru hanya bekerja mengajar. Saya salah. Ibu tidak hanya mengajarkan materi, tapi mengajarkan cara menjadi manusia—yang sabar meski nilainya turun, yang berani bertanya meski takut salah, dan yang tetap melangkah meski masih bingung arah. 

Kalau ini disebut “surat cinta”, maka cintanya bukan cinta murid yang labil kepada sosok yang dikaguminya. Ini bentuk hormat yang tumbuh pelan-pelan: dari cara Ibu tidak pernah tertawa ketika kami salah, dari cara Ibu menunggu ketika kami ragu, dan dari cara Ibu percaya pada potensi kami bahkan ketika kami sendiri belum sanggup melihatnya. 

Terima kasih, Bu. Bukan hanya untuk pelajaran yang Ibu sampaikan, tapi untuk versi diri saya yang Ibu bantu bangun—tanpa pernah menuntut balasan apa pun. 

Surat ini mungkin tidak akan pernah saya kirimkan langsung. Tapi di kepala saya, Ibu selalu membacanya.

 


KELOMPOK 4
• DEVIS JULIANO S (21)
• CHREESNA SEPTYAN R (17)
• DONI BAGUS P (25)
• DODY BAYU (24)
• GUNTUR ANDHIKA M (36)
• FIRMAN DWI A (33)
• FARID ANDRE A (31)
• FISMA PUTRA (34)

 

Tidak ada komentar:

PELITA DIRUANG KELAS

PELITA DIRUANG KELAS Di antara deret bangku yang sunyi. kau datang membawa cahaya pagi. Langkahmu sederhana. namun ilmunya mengubah dunia. S...