Setiap
pagi Ibu masuk kelas dengan langkah yang sama: tenang, tapi tegas. Tidak ada
musik latar, tidak ada sorotan panggung, tapi entah kenapa ruangan selalu
berubah ketika Ibu mulai bicara. Kata-kata Ibu bukan sekadar pelajaran; mereka
seperti pintu kecil yang dibuka agar kami bisa melihat dunia yang lebih luas
daripada meja kayu di depan kami.
Waktu
itu saya mengira guru hanya bekerja mengajar. Saya salah. Ibu tidak hanya
mengajarkan materi, tapi mengajarkan cara menjadi manusia—yang sabar meski
nilainya turun, yang berani bertanya meski takut salah, dan yang tetap
melangkah meski masih bingung arah.
Kalau
ini disebut “surat cinta”, maka cintanya bukan cinta murid yang labil kepada
sosok yang dikaguminya. Ini bentuk hormat yang tumbuh pelan-pelan: dari cara
Ibu tidak pernah tertawa ketika kami salah, dari cara Ibu menunggu ketika kami
ragu, dan dari cara Ibu percaya pada potensi kami bahkan ketika kami sendiri
belum sanggup melihatnya.
Terima
kasih, Bu. Bukan hanya untuk pelajaran yang Ibu sampaikan, tapi untuk versi
diri saya yang Ibu bantu bangun—tanpa pernah menuntut balasan apa pun.
Surat
ini mungkin tidak akan pernah saya kirimkan langsung. Tapi di kepala saya, Ibu
selalu membacanya.
KELOMPOK 4
• DEVIS JULIANO S (21)
• CHREESNA SEPTYAN R (17)
• DONI BAGUS P (25)
• DODY BAYU (24)
• GUNTUR ANDHIKA M (36)
• FIRMAN DWI A (33)
• FARID ANDRE A (31)
• FISMA PUTRA (34)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar