Senin, 08 Desember 2025

The lamp at the Tip of the pena

 


The lamp at the Tip of the pena

You are a lantern, in the silent classroom.
Illuminating, every corner. which was once dark and desolate.
With patience, you carve, into our innocent hearts.
Eternal traces of knowledge, that will never be erased.
Your words are a fountain. flowing, with wisdom.

Teaching, us to read the world, tirelessly.
Your hands firmly hold, the rudder of the future.

Guiding, the boat of dreams, across storms of obstacles.

You are present not only, as a giver of grades.
But a sculptor of the soul. a printer of noble
 
My teacher, you are the root of every tree of ambition.
Growing, skyward, as mighty as the eagle.

Thank you. hero without a medal. Your love is a prayer, that will never perish.


"Dwija Panuntun Urip"

 


"Dwija Panuntun Urip"

Ing sawijining esuk kang wurung sumunar,
panjenengan rawuh kanthi mesem sumorot padhang.
Tembung panjenengan dados obor cilik
kang nuntun aku metu saka pepeteng kawruh.
Guru…
ing saben langkah panjenengan,
ana lampah tanpa pamer,
ana sabar tanpa wates,
ana pengabdian sing ora njaluk bebungah.
Panjenengan kinarya sumur panguripan
ing ngendi aku sinau ngombe tepa slira.
Panjenengan kinarya wit kang sumrambah
menehi lindhung lan piwulang kanggo para murid.
Mugi kabecikan lan bageya tansah makempal
ing urip panjenengan.
Awit saben mimpi sing sumunar ing masa depanku,
ana tetes kringet lan tresna tulus sang dwija.


Surat Cinta untuk Guru

 


Madiun,28 November 2025

Surat Cinta untuk Guru


Kepada Guru yang saya hormati,
Terima kasih atas setiap ilmu, perhatian, dan kesabaran yang Ibu/Bapak berikan kepada saya. Meski sering saya membuat kesalahan, Ibu/Bapak tetap membimbing tanpa lelah. Dari cara mengajar, menasihati, dan menegur, saya belajar bahwa cinta seorang guru tidak selalu diucapkan, tetapi terasa dari setiap usaha dan pengorbanan.

Saya mungkin belum bisa membalas kebaikan Ibu/Bapak, tetapi saya akan berusaha belajar lebih rajin dan menjadi siswa yang lebih baik.

Terima kasih atas segala cinta dan ketulusan yang Ibu/Bapak berikan setiap hari.


Hormat saya,


KELOMPOK 4

GURU

 


“Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”



“Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”


Ing saben esuk kang ngrembaka,
Guru teka nggawa cahya pangarep-arep.
Suarane alus, sabare ora ana enteke,
Mbidangi bocah supaya dadi wong migunani.

Guru, kowé kaya lilin obor pitedah,
Nyunar dalan sanajan awakmu kobong pelan-pelan.
Ora njaluk pamrih, ora njaluk pamuji,
Kabeh kanggo masa depan murid-muridmu.

Saben tembungmu dadi pandom,
Saben piwulangmu dadi kembang wangi ing ati.
Guru, kowé sing ngukir masa depan,
Lir seniman nggawe ukiran ing jiwa.

Mugi tansah pinaringan berkah lan sih,
Kagem guru-guru ing saindenging bumi.
Amarga jerih payahmu ora bakal ilang,
Bakal kelingan nganti tekan saklawase.

"Panutaning Hurip"

"Panutaning Hurip"


Ing saben esuk sing sumunar,
katon panjenengan lumaku lir surya.
Nggawa welas, nggawa kawruh,
ngulur sabar tanpa wewates.
Guru, panjenengan kaya geni alit,
murub ing petenging ati bocah-bocah.
Nyareni rasa ragu,
nuntun tekan dalan padhang.
Tembe mburi, swarane piwulangmu
dadi tandha ing uripku.
Sanadyan wektu mlaku adoh,
asmanmu tetep ngresep ing ati.
Guru, panjenengan ora mung mulang,
nanging uga mbangun jati diri.
Saking panjenengan, aku sinau
tepa slira, wani, lan ngajeni.
Mugi tansah pinaringan sih kawelasan,
samangsa panjenengan dadi pepadhang
kang ora entek-enteké,
tumrape generasi sing bakal teka.

Surat Cinta untuk Guru

 


Surat Cinta untuk Guru

Sebagai Tanda Cinta & Bakti di Hari Guru Kepada: Ibu/Bapak Guru Tersayang,

Di hari yang bersejarah ini, izinkan saya yang selama ini hanya duduk diam di bangku, mencatat setiap kata-kata Ibu/Bapak berdiri sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu menyampaikan apa yang selama ini hanya berani tersimpan di antara lembar- lembar buku catatan: terima kasih, dan maaf, sekaligus aku cinta padamu.

Bukan cinta yang keliru, melainkan cinta yang tumbuh dari rasa kagum:

Ketika Ibu/Bapak membalikkan kapur di papan tulis, seolah membalikkan halaman masa depan kami.Ketika suara Ibu/Bapak serak di tengah kelas, tapi tetap saja kami mendengar ketulusan di setiap suku katanya.Ketika Ibu/Bapak berdiri dari pukul 06.30, lalu pulang menjelang maghrib, dompet tipis, tas berat, tapi hati tak pernah berhenti berapi-api.

Hari Guru ini, saya ingin mengakui:

Segala “Pak/Bu, saya nggak bisa” yang pernah saya ucapkan, sebenarnya adalah “Pak/Bu, saya takut gagal.”Segala alasan bolos yang saya tulis, sebenarnya adalah surat kecil berisi rasa tidak percaya diri.Tapi Ibu/Bapak tetap menunggu, menepuk pundak, menyapukan kata: “Kamu bisa, coba lagi.”Dan tiba-tiba dunia yang tadinah kelam jadi terang, seolah Ibu/Bapak menyalakan lampu di sudut paling gelap hati saya.

Kini saya tahu:

Ilmu pengetahuan bisa kutemukan di Google, tapi arti “percaya diri” baru kutemukan di kelas Ibu/Bapak.Rumus matematika bisa kuhafal, tapi rumus keberanian baru kudapat ketika Ibu/Bapak menyuruhku maju ke depan.Sejarah dunia bisa kubaca, tapi sejarah kebaikan baru kutulis setiap hari karena Ibu/Bapak menuliskannya dalam tindakan.Jadi, di hari ini, saya tak ingin hanya membawa bunga atau kartu yang bertuliskan “Selamat Hari Guru.”

Saya ingin membawa perjanjian:

Bahwa setiap kali saya menulis esai yang berapi-api, ada secercah suara Ibu/Bapak di antara koma dan titiknya.Bahwa setiap kali saya berdiis di atas mimpi, ada bekas tapak kaki Ibu/Bapak yang sudah lebih dulu membelah rintangan.Bahwa suatu hari, ketika saya akhirnya menjadi “seseorang”, saya akan kembali ke ruang ini, mengetuk pintu, lalu berbisik:“Bu/Pak, muridmu yang dulu sering lupa bawa pensil ini, kini membawa harapan—dan sedikit dari harapan itu berisi nama Ibu/Bapak.”

Terima kasih telah menjadi lentera yang tak pernah padam, bahkan ketika angin keputusasaan menerpa.Maaf atas segala bolos, keluh, dan tatapan kosong yang pernah membuat Ibu/Bapak kecewa.Aku cinta—ya, aku cinta—pada guru yang tak pernah lelah menanam benih hari esok di tanah yang kadang tandus namanya “diriku dulu.”Semoga Tuas membalikkan waktu sejenak, agar Ibu/Bapak bisa melihat:Betapa besar pohon yang tumbuh dari biji yang pernah Ibu/Bapak sirami dengan keringat dan senyum.

Selamat Hari Guru.

Tulang-tulangku berdiri tegak karena tulang punggungmu tak pernah bungkuk. Dengan cinta yang tak akan pernah lulus dari hatiku,

“Guru Pambuka Padhang”

 

“Guru Pambuka Padhang”


Ing esuk sumunar surya, Krasa anget ing jero ati.
Guru tindak kanthi tulus budi, Nuntun bocah tanpa pamrih.
Panjenengan ibarat obor ing peteng, Nuwuhake padhang kawruh lan pekerti. 
Saben tembung dados wewaton,
Saben tumindak dados tuladha.
Senadyan ora tansah kapuji, Lelakonne tetep wani lan sabar.
Amargi guru iku pahlawan sepi,
Nggawe generasi dadi pinter lan benar.
Guru…
Tresna lan tulusmu ora bakal kawurung, Mugi tansah pinaringan rahayu lan berkah, 
Awit tanpa panjenengan,
Ora ana masa depan kang sumunar cerah.

A Teacher`s Light

 A Teacher`s Light

In a room where dreams begin to grow,
You stand a quiet guide, a steady glow.
With patience shaped by hope and care,
You lift each mind, teach hearts to dare.
Your words are seeds,
your lessons bloom,
turning simple days to futures that resume.
And though the world may never see the weight you carry quietly.
your light remains in every soul you've helped to find a brighter goal.
Thank you, teacher for every start,
for every touch that shaped a heart.In a room where dreams begin to grow,
You stand a quiet guide, a steady glow.
With patience shaped by hope and care,
You lift each mind, teach hearts to dare.
Your words are seeds,
your lessons bloom,
turning simple days to futures that resume.
And though the world may never see the weight you carry quietly.
your light remains in every soul you've helped to find a brighter goal.
Thank you, teacher for every start,
for every touch that shaped a heart.


PELITA TANPA LETIH

 PELITA TANPA LETIH

Engkau menyalakan pelita

di ruang kecil penuh tanya.

Setiap kata yang kau berikan

jadi arah bagi langkah kami.

Guru, terima kasih-kau terus terang meski lelahmu tak terlihat.



The Teacher's Light

 



DIKLATSAR TARUNA KALA ITU

 


Sebelum mengikuti pembelajaran dalam SMK Negeri 1 Wonoasri, seluruh siswa diwajibkan mengikuti kegiatan diklatsar taruna. Diklatsar tersebut bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, jiwa korsa, menanamkan jiwa kepemimpinan, hingga melatih fisik dan mental siswa. Diklatsar tersebut, dilaksanakan oleh siswa dalam kurun waktu 1,5 bulan, yang dimulai pada 10 September 2025 hingga pada puncaknya jatuh pada 31 Oktober 2025. Pada tanggal tersebut, seluruh siswa

dilantik menjadi taruna dan taruni SMK Negeri 1 Wonoasri. Di sana, para taruna dan taruni menunjukkan keterampilan mereka yang telah diasah selama diklatsar taruna tersebut.

1.      Kesan dari M. Iqbal X TE 2

Saya masih ingat kegiatan diklatsar taruna angkatan ke 15 SMKN 1 Wonoasri . Hari pertama dimulai dengan upacara pembukaan diklatsar taruna yang dimulai pada hari rabu, pada hari itu semua siswa merasa bersemangat saat melakukan upacara

pembukaan diklatsar. 1 bulan kemudian materi diklatsar sudah hampir di berikan semua anggota sudah mempersiapkan materi yang akan di tampilkan pada saat upacara pelantikan di alun-alun reksogati caruban, saya merasa senang dengan

diklatsar pada tahun ini saya bisa merasakan rasanya di hukum bareng. Saya berharap diklasar ini bisa mendisiplinkan dan menjadi pribadi yang lebih baik.

2.      Kesan dari Naumi X TE 2

Selama diklatsar banyak hal yang telah saya pelajari, mulai dari kebersamaan, kedisiplinan, hingga pelatihan fisik dan mental. Awalnya saya berpikir bahwa hal tersebut akan terasa sangat berat, namun setelah dijalani, ternyata tidak seberat apa yang saya bayangkan. Pada awalnya mungkin memang terasa berat, ditambah jika diiringi dengan rasa mengeluh, tapi semakin lama, saya merasa bahwa kegiatan ini benar-benar bermanfaat untuk pribadi saya. Saya menjadi lebih disiplin, tegas, berani dan mulai memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam diri dan sekolah saya.

3.      Kesan dari Nayla X TE 2

Seru karna dapat banyak teman baru di lingkungan baru, Walaupun sulit untuk beradaptası, di masa ketarunaan ini kita di beri pembelajaran untuk lebih disiplin pada aturan yang berlaku dan waktu yang berjalan.

4.      Kesan dari Nayshira X TE 2

Mungkin banyak teman-teman dari kelas lain yang berberat hati untuk mengikuti kegiatan ini karena melelahkan. Tetapi jiwa saya akan selalu bersemangat karena momen itu tidak akan pernah terulang lagi, dan saya selalu dengan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dibina oleh kakak senior dan juga bapak-bapak koramil. Diklatsar Taruna ini membuat saya menjadi lebih baik, yaitu lebih bertanggung jawab, lebih menaati aturan, takut jika berbuat salah, serta mulai berani dan tegas menghadapi keseluruhan yang terjadi. Sedih, senang, kami rasakan bersama sama, saling merangkul dalam satu kegiatan, saling mendukung satu sama lain. Dari kegiatan ini, saya lebih memiliki relasi yang sedikit luas dan lebih banyak dibanding pada sebelumnya. Tentu saya sangat senang sekali dapat merasakan kegiatan ini, dan juga sangat berterima kasih kepada bapak-bapak koramil dan kakak-kakak senior yang dengan tulus ikhlas membimbing kami selama melaksanakan kegiatan.

5.      Kesan dari Rahma X TE 2

Berada di lingkungan taruna selalu punya cerita seru, apalagi saat ikut demonstrasi baris formasi yang bikin sensasi mendebarkan naik dan kekompakan terasa nyata, dari teriakan danton, langkah yang harus serempak, sampai rasa capek yang malah jadi tawa bareng. Serunya lagi, saat demonstrasi semua benar-benar dituntut fokus, cepat tanggap, dan solid—gerakan harus rapi, formasi berubah cepat, dan semua mata tertuju ke kita. Deg-degan iya, tapi justru itu yang bikin nagih karena ada kepuasan besar saat formasi berhasil kompak. Begitu selesai, capek langsung terbayar sama rasa bangga dan senyum bareng teman-teman.

6.      Kesan dari Syifa Amalia X TE 2

Selama dilaksanakannya kegiatan diklatsar taruna angkatan 15. Saya dan teman- teman saya dilatih secara fisik juga secara mental, ada banyak keluhan karena merasa lelah dan panas yang dapat membakar kulit tubuh. Tetapi saya bisa menyadari dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan kedisiplinan diri, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama dan lebih banyak lagi. Saya senang bisa melaksanakan ini bersama teman-teman saya yang membuat kegiatan ini semakin seru.

7.      Kesan dari Vanika X TE 2

Kegiatan diklatsar ini akan memberikan kenangan yang ngga bisa di lupakan,mulai di disiplin nya waktu,jiwa korsa,apalagi kalau mengikuti salah satu demonstrasi pasti akan merasakan’salah satu salah semua’dan pasti akan kgn kata²’hadap serong kiri’ yang akan benar² bikin kangen disini di diklatsar kita selalu mempunyai cerita,susah dan senang akan membekas di hati dan itu semua akan bisa di kenang,dan masa² yang di tunggu sudah di laksanakan sekarang hanya bisa di kenang.

8.      Kesan dari Whafi X TE 2

Kegiatan diklatsar taruna di SMK menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Setiap latihan baris- berbaris, apel pagi, datang ke sekolah tepat waktu hingga kegiatan fisik lainnya tidak hanya melatih kekuatan, tetapi juga membentuk mental yang lebih tegas dan percaya diri. Kebersamaan dengan teman-teman pun semakin erat karena setiap tantangan selalu dihadapi bersama. Dari kegiatan ketarunaan, saya belajar bahwa kedisiplinan dan kerja sama adalah kunci untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

9.      Kesan dari Yusuf X TE 2

Kegiatan Diklatsar Taruna di SMKN 1 Wonoasri memberikan kesan yang sangat positif bagi saya karena saya belajar tentang arti disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab melalui berbagai kegiatan seperti latihan fisik dan kerja tim, sehingga saya menjadi lebih terbiasa tepat waktu, lebih menghargai aturan, dan merasakan kekompakan bersama teman-teman yang membuat pengalaman ini terasa menyenangkan dan sulit untuk dilupakan.

KELOMPOK 4

1. NAUMI ULI S (03)
2. NAYLA FAIZATUS S (04)
3. NAYSHIRA ZASQIA P (05)
4. RAHMA NITA A (14)
5. SYIFA AMALIA R (25)
6. VANIKA SHERLY A (2G)
7. MUHAMMAD IQBAL M (01)
8. WHAFI WHAZIDY (31)
9. YUSUF ILHAM M (35)

The lamp at the Tip of the pena

  The lamp at the Tip of the pena You are a lantern, in the silent classroom. Illuminating, every corner. which was once dark and desolate. ...